• IKATAN MUSLIMIN MALAYSIA (ISMA) komited dalam memikul amanah sebagai organisasi yang memberikan kebaikan kepada seluruh masyarakat sama ada dari aspek kebajikan sosial, pembangunan insan, kekeluargaan, pembangunan remaja dan belia serta wanita.

  • Gambar aktiviti...

    DSC_0907a

    DSC_0923a

    DSC_0940a

    DSC_0943a

    More Photos
  • Pengunjung

    • 43,087 Pelawat...
  • >>

KELUARGA

Peranan Wanita dalam masyarakat…..

 

Tidak dapat diragukan  lagi,  bahwa  kita  hidup  dalam  era

kebangkitan  Islam, setelah sekian lama kaum Muslimin berada

dalam keadaan tidak sadar  dan  lelap  dalam  tidurnya  yang

berkepanjangan,    seperti   halnya   kaum   Kahfi,   dimana

musuh-musuh mereka mengintervensi dari Barat, Timur, Selatan

dan  Utara.  Kemudian  menjajah  dan  menguasainya, sehingga

dengan mudah menjatuhkan mereka dari agamanya, yaitu  Islam.

Lalu   diganti   secara   paksa   peraturan-peraturan  baru,

hukum-hukum baru, baik dalam masalah politik maupun sosial.

 

Hal-hal yang demikian itu terjadi pada  saat  kaum  Muslimin

dalam   keadaan  tidak  sadar.  Kemudian  berkat  perjuangan

ahli-ahli fiqih dan dakwah, maka terjadilah pembaruan  untuk

membangun pusat dakwah Islamiah dan perorangan di mana-mana.

 

Dengan  takdir  Allah,  maka  terjadilah  kebangkitan  ummat

Islam. Hal ini sudah  biasa  bagi  ummat  Islam  dan  sesuai

dengan  sifatnya,  bahwa  ummat  Islam  tidak  mungkin  mati

selamanya, tanpa  bangkit  kembali.  Karenanya,  agama  yang

hidup  mengharuskan  ummatnya  hidup;  dan  Allah swt. dalam

setiap  masa  selalu  mengangkat  seseorang,  untuk  membawa

keharuman agama bagi ummatnya.

 

Dalam  setiap  masa  selalu  timbul  di  tengah-tengah ummat

Islam, orang-orang  yang  membela  kebenaran,  walau  bahaya

menentangnya,  sampai  datangnya hari Kiamat. Maka dari itu,

keluarlah  suara-suara  untuk  mengajak  bagi  ditegakkannya

kebenaran  dan dipraktekkannya agama Islam secara utuh serta

pembaruan, sebagaimana dapat dirasakan seperti sekarang ini.

 

Sebenarnya, kebangkitan ini meliputi semua  aspek.  Sebagian

orang  mengira  di  saat  permulaan  hanya  suara  saja yang

timbul, disebabkan oleh  perasaan  dan  semangat.  Sementara

kenyataan  menjadi  sebaliknya,  setiap waktu bertambah kuat

semangat yang menyala, perasaan yang hidup  dalam  kesadaran

pada  agama  tersebut,  dan  kebangkitan berdasarkan pikiran

yang sehat, setelah  lama  hidup  jauh  dari  kemurnian  dan

kebenarannya.  Sadar  akan  akibat dan keadilannya di segala

bidang.

 

Sungguh telah berubah  semua  perasaan  dan  simpatik,  yang

dulunya   di   bawah   naungan   gerakan   Nasionalisme  dan

Sosialisme,   serta   lain-lainnya,   dari    aliran    yang

bertentangaan   dengan  agama.  Maka,  pikiran-pikiran  yang

semula dipengaruhi oleh  paham-paham  yang  bukan  bersumber

pada  Islam, karena belum paham terhadap Islam, sekarang ini

mereka sadar akan kebenaran dan kemurnian dari ajaran Islam.

Mereka  paham  bahwa  Islam  itu  bukan  ibadat saja, tetapi

menyangkut  segi  akidah,  akhlak   yang   luhur,   muamalah

(jual-beli) yang baik, dan hukum-hukum yang telah ditetapkan

Allah. Bahkan Islam itu adalah amanat dan risalah yang dapat

mengatur kehidupan manusia sebelum lahirnya manusia, sesudah

lahir, ketika masih berupa janin, di waktu hidup dan  ketika

mati. Begitu juga di waktu bangkit kembali.

 

Kcbangkitan  ini  termasuk  kebangkitan berpikir. Kita telah

melihat buku-buku yang telah ditulis  oleh  ahli-ahli  pikir

dan  penulis-penulis  terkenal.  Di  mana-mana,  terutama di

perpustakaan, penuh dengan bermacam-macam buku  yang  dibaca

para  generasi  muda  Islam,  mulai  dari yang berpendidikan

rendah   sampai   yang    berpendidikan    tinggi,    mereka

mempelajarinya secara mendalam.

 

Adapun masa kemunduran dan bekunya pikiran adalah disebabkan

oleh banyak hal, diantaranya ialah:

 

Pada  masa  itu  banyak  pikiran-pikiran  yang  condong  dan

menganggap harus ikut peradaban Barat di segala bidang.

 

Tiada jalan bagi kemajuan, kecuali mengambil peradaban Barat

secara keseluruhan, baik, buruk, pahit dan  manis.  Sehingga

para   simpatisan   giat   mencari  dalil  untuk  menguatkan

kedudukan dan peradaban orang  asing;  bahkan  hal-hal  yang

tidak  sesuai  dengan  peraturan mereka, dicela dan dianggap

tidak sempurna, misalnya dalam masalah talak, riba, poligami

dan sebagainya.

 

Sekarang  ini  lain  halnya,  semua  masalah dihadapi dengan

bahasa ilmiah dan pikiran yang sehat, walaupun mereka  dalam

masa  kemajuan telah mencapai bulan dan dengan mudah manusia

dapat menikmati hidup yang mewah, tetapi mereka gagal  dalam

membina   ketenangan  jiwanya.  Mereka  hanya  memperhatikan

sarana bagi sesuatu, tetapi mereka mengabaikan tujuan  luhur

dari kehidupan ini, dan itu hanya bisa diarahkan oleh Islam.

 

MASALAH YANG TIDAK DAPAT DIJAWAB

 

Peradaban  masyarakat  Barat tidak dapat menjawab pertanyaan

berikut ini: Untuk apakah manusia ini hidup, dari  mana  dan

hendak ke mana mereka pergi?

 

Peradaban   Barat   tidak   dapat  memberi  kebahagiaan  dan

kesejahteraan bagi manusia. Maka Islamlah satu-satunya agama

alternatif    yang   dapat   mengungkapkan   kelemahan   dan

ketidakmampuan mereka dalam menghadapi  tantangan  kehidupan

yang  menuju  ke  arah  kesejahteraan  di  dunia  maupun  di

akhirat. Islamlah yang dapat menjawab dan  memecahkan  semua

permasalahan, baik masalah politik, sosial dan lainnya.

 

PERANAN KAUM INTELEKTUAL

 

Perhatian  akan  masalah-masalah  Islam  tidak saja terbatas

kepada orang-orang berusia lanjut, bahkan tampak lebih besar

perhatian   semangatnya   di   kalangan   para  pelajar  dan

ilmuwannya,  baik  laki-laki  maupun  wanita.  Mereka   giat

mempelajari  masalah-masalah  Islam  dan mempraktekkannya di

masjid dan tempat-tempat ibadat lainnya yang selalu dipenuhi

oleh segenap lapisan ummat Islam.

 

PERANAN WANITA

 

Jika  kita  membaca Al-Qur’an, maka dapat kita ketahui bahwa

penciptaan Nabi Adam as. bersamaan  dengan  ibu  Hawa,  yang

berfungsi sebagai istri dan kawan hidup beliau.

 

Kita  mengetahui  kisah  istri  Fir’aun, yang dapat mencegah

Fir’aun  dalam  niatnya  untuk  membunuh   Nabi   Musa   as.

Sebagaimana tercantum dalam firman Allah swt.:

 

“Dan berkatalah istri Fir’aun, ‘(Ia) biji mata

bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya,

mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita

pungut menjadi anak, sedangkan mereka tidak

mzenyadari.” (Q.s. Al-Qashash: 9).

 

Kita  simak  kisah  dimana  ada  dua  wanita di kota Madyan,

keduanya putri Asy-Syekh Al-Kabir,  yang  diberi  air  minum

oleh   Nabi   Musa   as.   Kemudian  kedua  wanita  tersebut

mengusulkan kepada ayahnya, supaya memberi pekerjaan  kepada

Nabi   Musa   as.   karena  beliau  memiliki  amanat  (dapat

dipercaya) dan fisiknya kuat. Sebagaimana yang tertera dalam

firman Allah swt.:

 

“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata,

‘Wahai Bapakku, ambillah dia sebagai orang yang

bekerja (kepada kita), karena sesungguhnya orang

yang terbaik, yang kamu ambil untuk bekerja

(kepada kita) ialah orang yang kuat dan dapat

dipercaya’.” (Q.s. Al-Qashash: 26).

 

Kita  simak  lagi  kisah  ratu  Balqis di negeri Yaman, yang

terkenal adil dan memiliki jiwa demokrasi. Ratu ini  setelah

menerima  surat  dari  Nabi  Sulaiman as. yang isinya seruan

untuk taat kepada Allah dan menyembah kepada-Nya,  lalu  dia

meminta  pendapat  kepada  kaumnya  dan  bermusyawarah untuk

mengambil sebuah putusan bersama.

 

Firman Allah swt.:

 

“Berkata dia (Balqis), ‘Hai para pembesar, berilah

aku pertimbangan dalam urusanku (ini), aku tidak

pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu

berada dalam majelis(ku).’

 

Mereka menjawab,  ‘Kita  adalah  orang-orang  yang  memiliki

kekuatan  dan  (juga)  memiliki  keberanian  yang luar hiasa

(dalam peperangan), dan keputusan berada di  tanganmu;  maka

pertimbangkanlah   yang   akan   kamu  perintahkan’.”  (Q.s.

An-Naml: 32-3).

 

Kemudian dia berkata,  sebagaimana  yang  telah  difirmankan

Allah swt.:

 

“Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu

negeri niscaya mereka membinasakannya, dan

menjadikan penduduknya yang terhormat jadi hina;

dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.”

(Q.s. An-Naml: 34).

 

Kesimpulan   dari   pendapat   ratu   tersebut  ialah  bahwa

penguasa-penguasa di dunia ini jika mereka hendak  menguasai

suatu  negeri,  maka  mereka  akan  merusak  dua  hal, yaitu

merusak negara dan moral penduduknya.

 

Oleh  karena  itu,  di  dalam  Al-Qur’an  telah   disebutkan

nama-nama wanita selain wanita-wanita yang tersebut di atas,

yang  ada   hubungannya   dengan   kisahnya   masing-masing.

Misalnya, ibu Nabi Isa as, Maryam Al-Batul.

 

PERANAN WANITA PADA MASA NABI MUHAMMAD SAW.

 

Adapun  peranan wanita pada masa hidupnya Nabi Muhammad saw.

yang kita kenal ialah yang memelihara Nabi saw, yaitu Aminah

ibu  beliau;  yang menyusuinya, Halima As-Sa’diyah; dan yang

menjadi hadina (pengasuh) bagi beliau, Ummu Aiman r.a.  dari

Habasyah.

 

Nabi  saw.  telah  bersabda, “Bahwa dia adalah ibuku setelah

ibuku sendiri.”

 

Kemudian kita  kenal  Siti  Khadijah  binti  Khuwailid  r.a,

wanita  pertama  yang  beriman dan membantunya, Siti Aisyah,

Ummu Salamah, dan lain-lainnya,  dari  Ummahaatul  Mukmtniin

(ibu  dari  kaum  Mukmin), istri-istri Nabi, dan istri-istri

para sahabat Rasulullah saw.

 

AKTIVITAS WANITA MASA KINI

 

Sebenarnya, usaha (kiprah) kaum wanita cukup  luas  meliputi

berbagai  bidang,  terutama  yang berhubungan dengan dirinya

sendiri, yang diselaraskan dengan Islam, dalam segi  akidah,

akhlak dan masalah yang tidak menyimpang dari apa yang sudah

digariskan atau ditetapkan oleh Islam.

 

Wanita  Muslimat  mempunyai   kewajiban   untuk   memperkuat

hubungannya   dengan  Allah  dan  menyucikan  pikiran  serta

wataknya dari sisa-sisa pengaruh pikiran Barat.

 

Harus mengetahui cara menangkis serangan-serangan  kebatilan

dan syubuhat terhadap Islam.

 

Harus     diketahui     dan     disadari     hal-hal    yang

melatarbelakanginya, mengapa dia harus menerima separuh dari

bagian  yang  diterima oleh kaum laki-laki dalam masalah hak

waris? Mengapa saksi seorang  wanita  itu  dianggap  separuh

dari  laki-laki?  Juga  harus  memahami hakikatnya, sehingga

iman  dan  Islamnya  bersih,  tiada   keraguan   lagi   yang

menyelimuti benak dan pikirannya.

 

Dia harus menjalankan secara keseluruhan mengenai akhlak dan

perilakunya, sesuai  dengan  yang  dikehendaki  oleh  Islam.

Tidak  boleh  terpengaruh  oleh  sikap  dan  perilaku wanita

non-Muslim atau berpaham Barat.  Karena  mereka  bebas  dari

pikiran  dan  peraturan-peraturan  sebagaimana yang ada pada

agama Islam. Mereka tidak terikat  pada  perkara  halal  dan

haram, baik dan buruk.

 

Banyak  diantara kaum wanita yang meniru mereka secara buta,

misalnya memanjangkan kuku yang  menyerupai  binatang  buas,

pakaian  mini,  tipis (transparan), atau setengah telanjang,

dan sebagainya. Cara yang demikian itu adalah  meniru  orang

yang buta akan hal-hal terlarang.

 

Nabi saw. telah bersabda:

 

“Janganlah kamu menjadi orang yang tidak mempunyai

pendirian dan berkata, ‘Aku ikut saja seperti

orang-orang itu. Jika mereka baik, aku pun baik;

jika mereka jahat, aku pun jadi jahat.’ Tetapi

teguhkan hatimu dengan keputusan bahwa jika

orang-orang melakukan kebaikan, maka aku akan

mengerjakannya; dan jika orang-orang melakukan

kejahatan, maka aku tidak akan mengerjakan.”

 

PERANAN WANITA DALAM KELUARGANYA

 

Di  dalam  Al-Qur’an  telah  ditetapkan, semua penetapan dan

perintah ditujukan kepada kedua pihak, laki-laki dan wanita,

kecuali  yang  khusus  bagi  salah satu dari keduanya. Maka,

kewajiban  bagi  kaum  wanita  di  dalam  keluarganya  ialah

menjalankan apa yang diwajibkan baginya.

 

Jika dia sebagai anak, kemudian kedua orangtuanya atau salah

satunya menyimpang dari batas  yang  telah  ditentukan  oleh

agama,  maka dengan cara yang sopan dan bijaksana, dia harus

mengajak kedua orangtuanya kembali ke jalan yang baik,  yang

telah  menjadi  tujuan  agama,  disamping  tetap menghormati

kedua orangtua.

 

Wajib  bagi  setiap  wanita  (para  istri),  yaitu  membantu

suaminya  dalam  menjalankan  perintah agama, mencari rezeki

yang halal, menerima dan mensyukuri yang dimilikinya  dengan

penuh kesabaran, dan sebagainya.

 

Wajib  pula  bagi  setiap  ibu,  mengajar  anak-anaknya taat

kepada  Allah,  yakni  dengan  menjauhi   larangan-Nya   dan

menjalankan    perintah-Nya,   serta   taat   kepada   kedua

orangtuanya.

 

Kewajiban bagi setiap wanita  terhadap  kawan-kawannya  yang

seagama,  yaitu  menganjurkan  untuk membersihkan akidah dan

tauhidnya dari pengaruh di luar Islam; menjauhi  paham-paham

yang  bersifat  merusak  dan menghancurkan sendi-sendi Islam

dan  akhlak  yang  luhur,  yang  diterimanya  melalui  buku,

majalah, film, dan sebagainya.

 

Dengan   adanya   tindakan-tindakan   di  luar  Islam,  yang

ditimbulkan oleh sebagian kaum Muslimin terhadap wanita yang

kurang bijaksana dan insaf, maka hal inilah yang menyebabkan

terpengaruhnya   mereka    pada    peradaban    Barat    dan

paham-pahamnya.

 

Harus  diakui,  bahwa  hak-hak wanita di sebagian masyarakat

Islam belum diberikan secara penuh.

 

Harus diketahui pula, bahwa suara pertama dari  kaum  wanita

dalam  menguatkan  dakwah  dan  risalah  Muhammad saw. ialah

suara Khadijah binti Khuwailid r.a. kepada Rasulullah saw.:

 

“Demi Allah, Tuhan tidak akan mengecewakan engkau

sama sekali. Sesungguhnya engkau bersilaturrahmi,

menghubungi keluarga dan mengangkat beban berat,

memberi kepada orang yang tidak punya, menerima

dan memberi (menghormati) kepada tamu, serta

menolong orang-orang yang menderita.”

 

Orang pertama yang berperan sebagai syuhada ialah  Ummu  Amr

binti  Yasir  Ibnu  Amar  yang  bernama  Samiah, dia bersama

suaminya disiksa,  agar  mereka  keluar  dari  agama  Islam.

Tetapi  mereka  tetap  bertahan dan sabar, sehingga dia mati

syahid bersama suaminya.

 

Ketika Rasulullah saw. melintasi mereka, dan melihat  mereka

dalam  keadaan disiksa, lalu Rasulullah saw. berkata kepada

mereka, “Sabarlah wahai Al-Yasir,  sesungguhnya  kita  nanti

akan bertemu di surga.”

 

Keterangan: Artikel ini merupakan artikel lepas yang ditulis

oleh Dr. Yusuf Al-Qardhawi. Dikutip dari Majalah “Al-Ummah,”

no.  66,  Pebruari  1986,  hlm.  40-5. Dimuatnya artikel ini

menurut hemat kami amat layak. (Penerjemah).

 

—————————————————

Fatawa Qardhawi: Permasalahan, Pemecahan dan Hikmah

Dr. Yusuf Al-Qardhawi

 

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: